Krisis Keberadaaan Generasi Baru

#life#growth 2 mnt baca

Beberapa orang mungkin sadar akan keberadaan mereka di awal usia 20-an. Mereka sering bertanya pada diri sendiri “Mengapa saya ada di dunia?”. Tidak untuk membuat hal itu terlihat kompleks, melainkan untuk mengakui siapa mereka sebenarnya. Mungkin terdengar aneh untuk beberapa orang yang tidak sadar tentang topik ini. Namun sebenarnya penting, karena itu bisa menjadi keuntungan untuk mengetahui nilai yang mereka miliki untuk bertahan hidup.

Sering kali penulis bingung, “Mengapa ada orang yang tidak tahu atas apa yang mereka inginkan?”. Dan dapat dianalisis bahwa mereka tidak sepenuhnya mengenali potensi yang mereka miliki. Jadi mereka terlihat bingung tentang apa yang membuat mereka merasa senang untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

Terutama pada era gig economy, generasi yang sedang berada di usia 20-an seringkali kehilangan arah tentang apa yang mereka ingin lakukan, sesulit menentukan pekerjaan apa yang membuat mereka bahagia. Penulis sadar bahwa masalah ini mungkin terjadi karena masalah ekonomi makro, sehingga mereka tidak memiliki pilihan yang cukup. Namun, daripada menyalahkan faktor eksternal lebih baik memikirkan apa yang ada di dalam kontrol. Kira-kira apa saja yang ada di dalam kontrol?

Untuk mengetahui potensi yang ada di dalam diri sendiri, menelusuri ke belakaang atas hal apa yang disukai menjadi bagian penting. Kembali pada bagaimana kondisi orang tua mereka, lanjut pada warisan yang diturunkan, kondisi lingkungan (apakah mendukung atau tidak), kebiasaan budaya, latar belakang pendidikan, dan seterusnya. Dengan memamahi setiap aspek tersebut dan menghubungkannya satu sama lain, mereka dapat membuka pandangan atas apa yang bisa mereka lakukan dengan memiliki tujuan yang jelas.

Nampak konyol jika menyalahkan faktor eksternal yang kebanyakan berada di luar kendali, padahal refleksi diri dengan menelusuri ke belakang atas siapa mereka sebenarnya bisa menjadi solusi dari permasalahan ini.